Prolog
Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya,
Ikin, menjadi orang asing.
Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.
Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.
Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.
Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.
Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang sudah lama terluka.
Duni, yang telah lama berpulang, meninggalkan luka yang tak tersembuhkan dan rahasia yang tersembunyi di balik senyumnya yang abadi. Ely, anak Duni, berdiri di samping Ani, matanya memancarkan tekad yang membara seperti bara api di tengah malam yang dingin.
Ia datang bukan untuk warisan yang fana, melainkan untuk keadilan yang abadi—keadilan yang telah dirampas dari ibunya oleh pamannya sendiri, dengan tangan yang sama yang dulu menggenggam tangannya.
Ikin, yang dulunya hanya seorang buruh tani yang mencium tanah dengan keringatnya, kini merasa berhak atas segalanya. Bersama Titi, mereka merencanakan cara untuk menguasai warisan—sebidang tanah dan rumah tua yang penuh kenangan—yang seharusnya dibagi rata seperti rezeki dari langit.
Anak-anak mereka pun terlibat dalam intrik ini, menambah kompleksitas dalam perebutan warisan, seperti benang kusut yang semakin sulit diurai.
Namun, ada rahasia yang lebih dalam dari sekadar keserakahan, tersembunyi di balik dinding-dinding rumah tua itu, seperti hantu yang menunggu untuk dibangkitkan. Ketika wasiat dibacakan, terungkaplah bahwa Duni telah lama menyimpan luka akibat perlakuan Ikin di masa lalu, luka yang menganga seperti jurang pemisah di antara mereka, dan hanya Ani yang menjadi saksi bisu.
Di tengah kekacauan ini, Ely, anak Duni, mencoba mempertaruhkan pertahanannya. Meskipun tidak berpengalaman dalam intrik keluarga, ia bertekad untuk mengungkap kebenaran dan melindungi haknya, seperti seorang pejuang yang memasuki medan perang tanpa senjata.
Kini, di antara dinding-dinding rumah yang penuh kenangan, dua keluarga harus menghadapi kenyataan pahit: bahwa darah tidak selalu lebih kental dari air, dan bahwa cinta keluarga bisa dikalahkan oleh kepentingan pribadi. Pertanyaannya, siapa yang akan keluar sebagai pemenang, dan siapa yang akan terjerat dalam jaring pengkhianatan yang mereka tenun sendiri, hingga akhir hayat mereka?

Komentar