Tittle - TEARS
Cast - JAE/ Sannia (AU)
Genre - Sad/Romance(?)
Summary-
“Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik”
(Jae)
Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku”
Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut.
“Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae
“Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”
Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap sosok tampan pria paruh baya menggunakan jas hitam yang sedang tertidur lelap di dalam sebuah peti.
“Dia lebih tau, dari apa yang kau tau”
Dari mata, sampai hidung seolah bekerja sama untuk semakin menggenangi wajah gadis ini.
“Tidak ada yang terlambat tentang itu, kau masih bisa mengatakannya sekarang. Beliau pasti sedang mendengarmu saat ini”
“Katakanlah, katakan bahwa kau sangat mencintainya!”
“Aku mencintaimu” Meski dengan suara sisa Sannia yang tak kuasa menuturkan saran Jae.
Pelukan dari berbagai pihak telah Sannia dapatkan, ibunya, Kakak laki lakinya, dan seluruh saudara yang ia miliki. Terlebih Jae, seseorang paling setia dalam hidup Sannia sekarang.
Orang terpilih dari mendiang sang ayah ini mungkin yang akan segera menggantikan posisi sebagai seorang penasiat, penjaga sekaligus teman sehidup untuk selamanya.
Sosok Sannia memang dikenal sebagai tipe gadis yang cuek dan sangat tertutup bahkan jarang sekali mengutarakan perasaannya kepada siapapun termasuk kepada anggota keluarganya. Mungkin hanya kepada Jae, itu pun tidak sepenuhnya.
Sehingga membuatnya terkesan seperti orang judes yang bodo amatan,
Lihatlah, setelah semuanya terjadi. Ia seolah menjadi manusia yang paling bersalah sedunia. Katakanlah ‘memang benar’
Tapi Jae datang seperti cahaya untuk memberinya penerangan, sedikit terkendali, sampai pikiran ikut berakhir gagal muncul.
“Ingatlah bahwa ia hanya pergi dari pandangan matamu, ia tetap ada disini, di dalam hatimu. Ia akan selalu mengawasimu melalui bayangan yang kamu ingat selama dia masih bersamamu”
“Jangan menyesali apapun,juga jangan menyalahkan dirimu. Kau sudah melakukan banyak hal meski itu tidak sesuai dengan harapanmu”
“Jadi menangislah, tapi kau harus kembali tersenyum ketika menurutmu semua sudah cukup”
End

Komentar