Langsung ke konten utama

DEAR [Prolog]






“Katakanlah sesuatu, sebelum aku mengakhiri hidupnya hari ini”


Pria berbadan besar, dengan percaya diri mengerahkan senjata pistol kearah kepala seorang pria muda berseragam sekolah yang tubuhnya telah terkapar lemah, akibat pukulan demi pukulan keras dari para pria jahat suruhan seseorang. 

“Kumohon, 

“—jangan lakukan itu!” Jawab gadis tersebut, dengan seluruh anggota tubuh yang terikat tali.

“Kau telah membuang banyak waktuku, jadi kurasa sudah saatnya aku pulang kerumah..”

“Lepaskan dia, dan bunuh saja aku!”

Senjata itu kembali di fokuskan. Sambil tersenyum menyeringai ia sekali lagi.

“Lakukanlah seperti yang aku inginkan, jika kau tidak ingin kehilangan anak ini, bukankah itu mudah!”

Gadis itu terdiam sebentar sambil merengut kesal, terlihat dari wajahnya kalau ia sedang dibuat kebingungan juga ketakutan.

“Aku tidak memberimu waktu untuk berfikir soal itu, jika kau tidak ingin melakukannya juga tidak apa apa. Itu pilihanmu” 

Sedikit lagi saja, senjata itu di tekan, habislah.

“Baiklah..”

“Aku— aku — akan melakukan apapun untukmu, 


“Jadi BERHENTILAH Dasar SIALAN—!” Gumam gadis itu.

Pria tersebut kemudian tersenyum tipis, begitu sang gadis mengiyakan keinginannya. Ia lantas membenahi senjatanya ke dalam saku jaket berwarna hitam dan meregangkan otot otot yang dirasanya kaku, tak lupa permen karet yang ia kunyah di lepehkan begitu saja kepada anak laki laki malang itu.

”Kau membuatku berupaya dengan keras, sangat menyebalkan ketika aku harus mengotori tanganku sendiri” Pekik pria itu.

Ia kemudian memilih berlalu meninggalkan keduanya, menggunakan sepeda motor miliknya diikuti oleh anggota gengnya yang lain dari belakang. Suara knalpot itu sangat berisik sampai menerobos gendang telinga.


Tak lama mereka berlalu, Brian datang, Panik ketika mendapati kondisi Jane dan Doun saat itu.

“Jane kau tidak apa? Kau tidak terluka?” Sembari melepas ikatan Jane, Brian memastikan keadaan gadis itu.

“Syukurlah kau datang, Bisakah kau membawa Doun ke rumah sakit? Dia tampak sangat kesakitan!” 

“Arghh, Seharusnya kau tau kalau lemah tidak usah pergi sendirian” Omel Brian pada Doun.

“Jangan membuang waktu, bawalah dia!!” Teriak Jane

“Aku AKAN MEMBAWANYA—aisss..” Brian balik meneriaki gadis itu.

“Kau berisik sekali” akhirnya suara itu muncul, suara lemah milik Doun.

“Dia masih bisa bicara?” Timpa Brian. 

“Pergilah—”

“Iya, iya, ayo kita pergi” Kata Brian.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...