“Katakanlah sesuatu, sebelum aku mengakhiri hidupnya hari ini”
Pria berbadan besar, dengan percaya diri mengerahkan senjata pistol kearah kepala seorang pria muda berseragam sekolah yang tubuhnya telah terkapar lemah, akibat pukulan demi pukulan keras dari para pria jahat suruhan seseorang.
“Kumohon,
“—jangan lakukan itu!” Jawab gadis tersebut, dengan seluruh anggota tubuh yang terikat tali.
“Kau telah membuang banyak waktuku, jadi kurasa sudah saatnya aku pulang kerumah..”
“Lepaskan dia, dan bunuh saja aku!”
Senjata itu kembali di fokuskan. Sambil tersenyum menyeringai ia sekali lagi.
“Lakukanlah seperti yang aku inginkan, jika kau tidak ingin kehilangan anak ini, bukankah itu mudah!”
Gadis itu terdiam sebentar sambil merengut kesal, terlihat dari wajahnya kalau ia sedang dibuat kebingungan juga ketakutan.
“Aku tidak memberimu waktu untuk berfikir soal itu, jika kau tidak ingin melakukannya juga tidak apa apa. Itu pilihanmu”
Sedikit lagi saja, senjata itu di tekan, habislah.
“Baiklah..”
“Aku— aku — akan melakukan apapun untukmu,
“Jadi BERHENTILAH Dasar SIALAN—!” Gumam gadis itu.
Pria tersebut kemudian tersenyum tipis, begitu sang gadis mengiyakan keinginannya. Ia lantas membenahi senjatanya ke dalam saku jaket berwarna hitam dan meregangkan otot otot yang dirasanya kaku, tak lupa permen karet yang ia kunyah di lepehkan begitu saja kepada anak laki laki malang itu.
”Kau membuatku berupaya dengan keras, sangat menyebalkan ketika aku harus mengotori tanganku sendiri” Pekik pria itu.
Ia kemudian memilih berlalu meninggalkan keduanya, menggunakan sepeda motor miliknya diikuti oleh anggota gengnya yang lain dari belakang. Suara knalpot itu sangat berisik sampai menerobos gendang telinga.
Tak lama mereka berlalu, Brian datang, Panik ketika mendapati kondisi Jane dan Doun saat itu.
“Jane kau tidak apa? Kau tidak terluka?” Sembari melepas ikatan Jane, Brian memastikan keadaan gadis itu.
“Syukurlah kau datang, Bisakah kau membawa Doun ke rumah sakit? Dia tampak sangat kesakitan!”
“Arghh, Seharusnya kau tau kalau lemah tidak usah pergi sendirian” Omel Brian pada Doun.
“Jangan membuang waktu, bawalah dia!!” Teriak Jane
“Aku AKAN MEMBAWANYA—aisss..” Brian balik meneriaki gadis itu.
“Kau berisik sekali” akhirnya suara itu muncul, suara lemah milik Doun.
“Dia masih bisa bicara?” Timpa Brian.
“Pergilah—”
“Iya, iya, ayo kita pergi” Kata Brian.

Komentar