Langsung ke konten utama

Fanfiction










 Tittle : CURAM


Cast : Dowoon/Diana

Sungjin, Wonpil, Jaehyung, Younghyun


Genre : Friendship/ngenes


Length : Chapter



Cerita ini hanya fiksi πŸ™ƒ Semua cast yang terlibat milik Tuhan dan orang tua ;-)



Happy reading ;.)


2 Tahun saja, seharusnya cukup untuk bisa move on, jadi masa penyembuhan paling tidak sebentar untuk wilayah sad boy dan sekitarnya. 

Menipu diri dengan menampakkan wajah baik baik saja di depan dunia. Itu mungkin hebat, karena aku terlihat kuat. Tapi ada kalanya aku akan sendirian bersama kesepian, seolah mengantarkan aku kembali mengingat akan sebuah lembaran lama,

 Lembaran lama yang pernah ada di antara kita. Bagaimana tidak, setiap kali mendapatkan waktu kosong, hanya foto kita berdualah yang mampu mengusir penat kala aku merasa lelah selepas bekerja.

Aku sengaja masih menyimpannya, karena aku pikir itu sangat menggemaskan.

Menyakitkan memang, entahlah, nyatanya aku masih sering tersenyum renyah, sampai waktu menyadarkan itu pada satu ketidakmungkinan besar. Prihal ke-tidak cocokkan kita sebagai hamba Tuhan.


Aku mendapatkan banyak waktu selama hiatusku untuk berinstrospeksi diri. Dalam pikirku selalu berkecamuk ‘apakah aku seharusnya menemuimu dengan wajah baruku’ Tak apa, asal semua demi bisa terus bersamamu.

Ku pikir lagi, nampaknya aku menjadi begitu egois, karena saking terobsesinya padamu, sampai aku harus melupakan kehadiran keluargaku.

Tak ada restu untuk itu dan aku hanya bisa marah pada diriku.


Rasanya ini adalah bab paling rumit yang tidak perlu ku perdebatkan lebih dalam antar hubungan dua manusia muda di tengah bisingnya kota yang sok sibuk ini. Tapi aku telah belajar mencoba untuk paham.

Bukan tentang perbedaan itu, melainkan tentang bagaimana cinta sejati itu seharusnya terbentuk. Seberapa besar kita saling bertahan, seberapa besar kita saling menjaga dan sebagaimana kita berhati-hati mencapai hari baik tiba,

 di depan, kita akan tetap berjumpa dengan sebuah perpisahan, bukankah Tuhan telah memperkenalkan kita pada kematian? Terdengar menakutkan jika sudah berbicara serius begitu.

Jadi aku pikir aku harus menggunakan waktuku dengan baik, agar bisa tetap, setidaknya hanya dengan melihat singkat senyuman hangatmu. 


“Kau tidak ikut kami keluar untuk membenahi wajah kusut itu?” Wonpil menceletuk dengan sindiran, disusul oleh Sungjin yang masih setengah kerepotan mengatur rambutnya depan cermin.

“Dowoon-ah, kau masih muda tapi suka sekali melamun,eoh” Sungjin memang terlihat paling santai jika dibandingkan dengan temanku yang lain, tapi lihatlah kepiawaiannya dalam hal memperhatikan situasi. Ia adalah sang juara.

“Ku pikir aku harus ikut dengan kalian!” 

Aku bangkit dari sofa kemudian beralih ke kamar mencari jaketku.

“Kau bisa merekomendasikan tempat makan yang enak untuk kita hari ini, aku lapar!” Yong hyun menyahut dengan status setengah sadarnya bangkit dari ranjang tempat tidurku. Mulutnya pun dibiarkan menguap lebar sembari menggaruk perut rata itu yang menurutnya gatal.

“Aku tau, kita bisa pergi kesana” Kataku bersemangat.

“Tunggu apalagi, ayo kita berangkat!” Jae hyung tampaknya sudah merasa jadi yang paling siap, bahkan dengan celana pendek selutut itu.


Setelah membutuhkan hanya beberapa menit untuk bersiap, kita akhirnya masuk ke dalam mobil satu per satu, dengan Sungjin sebagai pengemudinya. Kami melaju menuju tempat yang sudah aku pilih.


Sudah lama sekali rasanya, aku tidak datang kemari,

 Restaurant sederhana yang menyediakan menu ayam goreng favoritku dulu, kebetulan adalah milik paman Diana. Seorang gadis yang telah menjadi masalalu dalam hidupku.

Entah apa yang membuatku begitu berani menampakan wujudku disini, jujur saja aku tak bisa lagi mengelak fakta mengenai perasaanku yang sudah terlalu jemu menahan rasa tidak ingin bertemu dengannya selama ini, bahkan aku tidak peduli jika dia akan merespon hal yang bagaimana terhadapku, paling tidak mengetahui dia bernafas dengan baik saja aku pikir itu sudah cukup membuatku menjadi lebih baik.


Biasanya ia akan muncul sebagai pelayan cadangan guna membantu karyawan pamannya yang sedang kerepotan. Tapi kali ini, mungkin aku tidak akan melihatnya. Dia tidak kelihatan muncul, padahal ini hari minggu, seharusnya tidak ada jadwal untuk masuk kuliah kan?


“Hello Dowoon? Kau lihat apa? Pelayan sedang menunggu pesananmu sekarang!” Sungjin rupanya berhasil membangunkan lamunanku. 

Aku benar benar tidak sadar kalau seorang pelayan sudah berdiri mematung disampingku. Bahkan kini Jae hyung mentertawaiku puas.

“Aku tidak melihat pelayan yang namanya Diana, dimana dia?” Bukannya membahas mau makan menu apa, aku justru menanyakan keberadaan gadis itu.

“Diana? Mungkin dia akan datang tapi aku tidak tahu pasti kapan!” Jelas sang pelayan wanita ini dengan nada ramah.

“Begitu ya”

 “Oh, pesananku disamakan saja dengan yang lain ya!” Tanpa perlu aku lama lama berdiskusi soal makanan, pelayan itu tampaknya mengerti,

“Oh baliklah”

 la lantas berlalu pergi, meninggalkan situasi darurat di antara para lelaki yang usianya lebih tua dariku ini. Lihatlah, sorot matanya seakan menginterogasi, terkecuali Jaehyung, dia hanya menyenggol lenganku sambil menyorakiku dengan sebuah ledekan.



TBC-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...