Tittle : CURAM
Cast : Dowoon/Diana
Sungjin/Wonpil/Yonghyun/Jaehyung
Genre : Friendship/Ambyar
Chapter 3 [end]
Happy reading ;)
Kurang lebih satu jam kita menghabiskan waktu untuk sekadar berbincang ringan ditengah beberapa hidangan lezat yang sudah tersedia sepuluh menit lalu itu.
Kini tinggal menyisakan piring piring kosong dengan sisaan sayur hijau sebagai garnis pelengkap keindahan sang menu. Perutku yang terasa menjemu, memutuskan pamit sebentar kepada mereka, untuk bergegas pergi menuju toilet.
Hanya melaju beberapa langkah saja menjauhi meja pesananku, seorang perempuan dengan penampilan elegan pemilik wajah sangat lembut itu berhasil menabrak tubuh lemasku.
Wajahnya yang tak asing, kubiarkan lebih lama memandangiku, Oh! aku juga menelan air ludahku karena begitu gugupnya akan sorotan mata sendu itu kepadaku. Siapa lagi? Kalau bukan dia, gadis yang sedang aku nantikan selama ini, Diana.
Dan akhirnya,
Bak bunga mawar yang sedang melayu, kemunculannya seperti air mengalir yang sengaja disalurkan untuk menyirami kerapuhanku. Entahlah, jantungku masih saja bedetak cepat seperti dulu, Terlihat jelas jadinya, bahwa hanya aku yang merasa demikian disini, dibandingkan dengan Diana, ia tampak lebih menjaga jarak denganku.
Langkahnya pun memundur perlahan juga menunduk sopan, seolah berniat menghindariku, karena aku tidak ingin menjadikan hal ini sebagai penyesalan bab selanjutnya dalam hidupku, jadi aku dengan spontan meraih tangannya, supaya tetap bersamaku disini.
“Sudah lama sekali”Nada bicaraku agak gugup.
“Dowoon, kau bisa melepaskan tanganku? Semua orang sedang melihati kita sekarang!”
Mendengar ucapan Diana, aku tersadar ketika semua orang disini benar sedang tertuju ke arah kita termasuk teman temanku yang berada tak jauh dari posisiku, aku merasa tindakanku memang sedikit berlebihan, jadi dengan terpaksa, aku melepaskan uluran tanganku.
“Ada yang ingin aku bicarakan beberapa hal denganmu, bisakah?” Ucapku sekali lagi.
“Tentu saja” ia mengangguk dengan tampang senang hati menerima kemauanku.
Jadi tanpa berlama lama, aku segera bergegas menuntun Diana keluar restauran guna mendapati suasana yang pas untuk obrolan kami.
Cuaca sore hari di hiasi oleh warna langit yang kejinggaan, bersama angin sepoi sepoi yang meniup rambut halus milik Diana, membuat aku harus pamer senyuman bahagiaku di depan gadis ini. Tak heran, ia melihatiku seolah aneh. Ya memang aneh kok.
Beberapa kata yang akan aku ucapkan untuk Diana telah aku rangkai dengan baik sebagaimana mestinya. Aku juga membiarkan penglihatanku terjeda selama beberapa detik, hanya untuk memandangi keindahan wajah gadis ini.
Karenanya, ia menjadi tersipu lalu bergumam
“Sebenarnya apa yang mau kau katakan denganku?”
“Aku ,-aku- senang bisa melihatmu seperti ini, entahlah sudah lama sekali rasanya”
Lagi, Diana tampak menyembunyikan senyuman malunya dariku.
“Aku juga”
“Dunia sepertinya sedang baik baik saja sekarang!” Jelas aku sesumbar.
“Ha? Apa?”
“Maksudku, kau tidak merindukanku?”
“Haha.. Ya,sedikit!”
“Waw”
Ia kemudian tertawa tipis membalas reaksi konyolku.
Aku tahu, meskipun kalimat itu muncul hanya sebagai penghibur ditengah kerinduanku, tapi aku sedikit puas. Jiwa lamaku yang telah terkubur seakan dibangkitkan kembali, sangat menakutkan.
“Kau apa kabar?” Aku tidak biasanya berbasa basi seperti ini.
“Aku menjadi sibuk akhir akhir ini terlebih menghadapi kelulusan yang semakin dekat, kau sendiri?”
“Aku juga sibuk dengan pekerjaan kantorku, dan yah..”
“Itu pasti sangat melelahkan”
“Tapi lama kelamaan aku makin menikmatinya”
“Bukankah kau juga punya band?”
“Band? Kita sudah memutuskan untuk vakum”
“Lho, Kenapa begitu?”
“Karena beberapa alasan, tapi kita sedang merencanakan untuk comeback dalam waktu dekat ini kok”
“Aku akan menantikannya!”
“Gomawo”
“Semangat ya!”
Seperti itulah kiranya rangkaian kata tersebut, aku memang tidak begitu ahli dalam hal mengutarakan perasaanku. Tapi aku berharap tanpa aku mengatakannya, Diana dapat mengetahuinya melalui tatapan mataku dan juga senyumanku.
End-
Komentar