Langsung ke konten utama

(D)EAR | Wattpad


"Jane"


Brian kini meraih pergelangan tanganku, membuat pandangan Dowoon yang melihat berubah tak senang.


"Apa?"


"Darimana kau mendapatkan nomorku?"


"Melayani jasa sedot WC"


"HEI aku serius!!"


Dowoon yang berada dibelakangku, berhasil dibuat tertawa cekikikan.



"Apakah itu penting?"


"Nomorku sangat privasi, tidak sembarangan orang dapat memilikinya"


"Siapa kau, selebriti?"


"Jangan sering mengirim chat denganku, karena aku mungkin tidak akan membalasnya"


"Dih!"


"Semakin lama kau mengenalku, mungkin aku akan semakin menarik nantinya"


"Kau sudah minum obatmu?" Dowoon yang menyaksikan ikut menceletuk sebal.


"Bisakah kau pergi saja?"


"Aku memang akan segera pergi"


  https://www.wattpad.com/story/285526539?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create_story_details&wp_uname=yykmmm&wp_originator=UYsWsTVrSuV1DBppT8TJXAlUBEZDVK%2FNdux1c1SFOP8NxS91m%2BbX2TiYOEcEHfLB8Vc5krm9rQ%2FCVmno2HTsALhsXA2UH7glSiTThCAAW7qgZXDcRrktR7dGind44ij8







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

DEAR [Prolog]

“Katakanlah sesuatu, sebelum aku mengakhiri hidupnya hari ini” Pria berbadan besar, dengan percaya diri mengerahkan senjata pistol kearah kepala seorang pria muda berseragam sekolah yang tubuhnya telah terkapar lemah, akibat pukulan demi pukulan keras dari para pria jahat suruhan seseorang.  “Kumohon,  “—jangan lakukan itu!” Jawab gadis tersebut, dengan seluruh anggota tubuh yang terikat tali. “Kau telah membuang banyak waktuku, jadi kurasa sudah saatnya aku pulang kerumah..” “Lepaskan dia, dan bunuh saja aku!” Senjata itu kembali di fokuskan. Sambil tersenyum menyeringai ia sekali lagi. “Lakukanlah seperti yang aku inginkan, jika kau tidak ingin kehilangan anak ini, bukankah itu mudah!” Gadis itu terdiam sebentar sambil merengut kesal, terlihat dari wajahnya kalau ia sedang dibuat kebingungan juga ketakutan. “Aku tidak memberimu waktu untuk berfikir soal itu, jika kau tidak ingin melakukannya juga tidak apa apa. Itu pilihanmu”  Sedikit lagi saja, senjata itu di tekan, ha...