Langsung ke konten utama

DEAR || Part. 1

 




Bayangan itu selalu saja datang tanpa permisi dalam lamunan, menjengkelkan sekali. 

Jane yang terlihat mulai melelah membalikan badannya pasca sudut meja dan kursi pelanggan yang kotor ia bersihkan. Bak kayu lapuk yang merapuh, hampir saja Jane terkapar begitu tersandung nampan yang tidak sadar sudah ia jatuhkan. Tapi Jae, datang dan memeluknya dengan sigap.

“Berhati hatilah, kau selalu seperti ini”Ujar Jae.

“Oh— Jee, kau” Gadis ini tampak linglung.

“Kau sedang tidak enak badan kah?” Sekali lagi, Jae menunjukkan perhatiannya dengan memastikan suhu dahi Jane.

“Apa ini? Masih pagi buta begini harus banget pamer kemesraan disini?” Envil yang kala itu baru tiba langsung menyeletuk ,membuat dua sejoli yang merasa disudutkan segera membenari posisinya masing masing. 

“Ada apa dengan penampilannya kali ini? Apa dia bermalam disini lagi” Dari belakang punggung Envil, Karina juga ikut menyinggung sambil menahan senyum gelinya.

“Kenapa harus heran, bukannya Kak Jane memang selalu seperti itu?” Timpa Haruto, si pelayan paling muda di antara mereka.

Tak pedulikan dengan singgungan demi singgungan, Jane beralih mengambil sebuah karung plastik hitam berisikan sampah yang belum sempat ia buang semalam.

“Biar aku saja yang melakukannya!” Jae turut mengambil alih.

“Tidak usah, biar aku saja”

Dengan badan loyo, Jane merebutnya dari tangan ringan Jae kemudian berlalu melangkah keluar untuk menaruh sampah tersebut ke tempat pembuangan.

Jae, pria yang sering terlihat menempel dengan Jane tersebut sudah dekat kurang lebih 3 tahun lamanya. 

Mereka bertemu di momen yang begitu mengharukan tanpa orang ketahui. Setelah dibeberapa kesempatan untuk mencoba melukai dirinya sendiri, Jane dengan lika liku hidup yang ia lalui seorang diri beberapa tahun ke belakang, membuatnya kadang suka tak terkendali.

 Pernah suatu ketika ia pergi ke sebuah puncak gedung hanya untuk melompat dengan dalih mengakhiri hidupnya. Tapi Jae, dia pasti utusan dari Tuhan yang di datangkan sebagai penyelamat hidup Jane.

Benar saja, bahkan hingga kini. Meski sulit untuk bisa akrab dengan manusia misterius seperti Jane, Jae merasa membantu menyemangati hidup Jane adalah tugas nya. Terlepas dari slogan itu, Jae senang dapat melakukannya.

“Bersabarlah, bersikap baik padanya adalah ujian terbesar. Sebaiknya kau tidak usah terlalu menunjukkannya, karna itu hanya akan menjadi percuma!” Gumam Envil kepada Jae sambil menepuk- nepuk bahu Jae.

“Wajahnya selalu lelah setiap hari, beban hidupnya pasti sangat menumpuk” Sambung Karina, sambil memandangi Jane bersama rekan rekan di sampingnya dari pantulan kaca jendela restauran.

“Kau ingat beberapa pria yang berpenampilan seperti pereman pernah datang dan makan disini?” Kata Envil dan di sambut antusias oleh Karina.

“Oh— iya aku ingat. Mereka bahkan sering datang kemari dan terlihat begitu akrab dengan Jane kan, menurutmu apa Jane sedang terlilit hutang?”

“Sudah terjawab lewat mukanya”Timpal Envil.

Karina langsung menghela napasnya panjang “Terkadang aku merasa kasihan padanya”

“Aku pernah menemukan Kak Jane di loker sedang menangis, itu adalah kali pertama dalam hidupku merasa iba melihat Kak Jane” Haruto yang pendiam ikut menyumbangkan suaranya.

“Ey dia bisa menangis?” Envil terheran heran.

“Tentu saja bisa, memangnya kau pikir dia robot?  Sekuat kuatnya manusia , mereka pasti punya sisi rapuhnya juga” Kata Karina.

Jae yang cuma bisa mendengarkan mereka berceletuk, tak menghiraukan. Ia tampak bersemangat untuk kembali menghadapi Jane, apalagi ketika Jane akhirnya selesai dengan kegiatannya saat itu.

 Di ikuti oleh seorang wanita paruh baya dari belakang tubuh Jane, bibi bibi itu menyoroti tajam para pemuda yang masih bermalas malasan.

“Kenapa kalian masih disana? Bukankah restauran harus buka sebentar lagi?” Ujar wanita paruh baya tersebut.

Mereka yang telah selesai berbincang-bincang mulai berhamburan pergi ke tempat kerja nya masing masing, terkecuali Jae. Dia adalah seorang pengacara junior yang waktu luangnya hanya di habiskan untuk mengintili Jane.

“ Jane— bukankah hari ini kau ada interview kerja, kenapa masih disini, pergilah untuk segera bersiap” heran wanita itu.

“Hari ini? Kenapa aku tidak ingat tentang itu”

“Kau melupakan hari sepenting itu?”

Yang lain, tampak mentertawakan Jane dengan sembunyi sembunyi. Sontak saja mendadak Jane mengecek ponselnya dan beralih pergi secepat kilat di ikuti oleh Jae. “Aku akan mengantarmu!” 

Tanpa menolak kali ini, Jae menarik paksa tangan Jane dan mendorongnya masuk kedalam mobil kemudian melaju berlalu meninggalkan rastaurant milik bibinya.

“Wah— anak itu makin mengkhawatirkan saja” Kicau sang bibi sembari melongos memandangi kepergian keponakannya yang masih menyisakan aroma belum mandi Jane yang terus tercium segar. 

“Vil, bisa kau pasangkan brosur itu di depan, aku menaruhnya di laci dekat meja kasir?!” Gumam wanita yang disebut bibi Jane tersebut.

“Haruskan kita memasangnya hari ini?”

“Eo, Kenapa—?”

“Hanya— kita bahkan belum tau kalau Jane bakal lolos seleksi atau tidak, kalau kita ingat lagi beberapa hari kebelakang dia lebih sering banyak melakukan kegagalan setelah interview. Apalagi untuk Perusahaan sekelas XG yang begitu ketat, pendapatan kita untuk beberapa hari kebelakang juga tidak begitu menguntungkan, pelanggan yang datang terus berkurang setiap harinya, apakah kau perlu menambahkannya sekarang?..”

“Ya kau benar, kau tidak perlu khawatirkan soal itu. Aku sudah memikirkannya bahkan jika Jane gagal lagi, menambahkan satu orang pekerja paruh waktu bukan masalah bagiku!” 

Wanita yang kerap di panggil Bu Nana oleh para pekerjanya, segera bergegas setelah memutuskan obrolannya dengan meninggalkan ekspresi wajah yang lelah bak salinan dari Jane. 

“Biar aku saja yang pasang!” Karina dengan sigap mengambil alih perintah atasannya sembari menyenggol sinis Envil.

“Pasang yang benar, jangan sampai miring!” Dengus Envil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...