Singkat saja, pertemuannya sederhana tetapi terasa sangat tidak nyata.
Berkat Jae, Jane tiba dengan waktu yang tidak sesuai perkiraan, sekitar 15 menit sebelum interview itu berlangsung. Sebelum turun dari dalam mobil, wajah Jane kelihatan begitu gugup dan kedua tangannya pun tiba tiba mendingin.
Jae yang saat itu menyadarinya, lantas menyalurkan sebuah genggaman sebagai bentuk tanda memberikan gadis ini dukungan. Tapi Jane lagi lagi, langsung menepis tangan Jae tanpa ragu.
“Kau gugup?" Sahut Jae.
“Kelihatan begitu ya?”
“Iya—“ Jae menganggukan kepalanya, sambil memalingkan pandangannya dengan malu malu.
“Aku hanya— sedang memikirkan apakah penampilanku terlihat baik sekarang, menurutmu apa riasanku terlalu mencolok, bagaimana dengan jas ini, norak ya?”
“Tidak, Kau sangat cantik hari ini, Eum— maksudku kau—selalu cantik setiap saat— Jane..” Jawab gagap pria itu.
“Seharusnya aku tidak usah meminta pendapatmu!”
“Sungguh aku tidak bohong, kamu—memang —cantik ,Jane”
“Kenapa tidak aku luluh, bahkan jika kau mengatakan aku seperti bidadari dari kayangan”
Menanggapi hal itu keduanya hanya saling lempar senyum geli, kemudian mengatur napas seolah meredakan kegugupan.
Gadis ini jarang sekali menanggapi serius pujian dari Jae yang sering diserukan kepadanya. Jane sangat hapal, bahwa ucapan Jae barusan hanya untuk membuat Jane supaya lebih bersemangat saja. Dan nyatanya, itu cukup berhasil.
“Aku telah hidup cukup lama menjadi seorang gadis payah beberapa tahun ke belakang, setelah ku pikir pikir itu lebih melelahkan dari yang ku kukira. Tidak banyak yang aku inginkan dalam hidup ini. Hanya satu, sesuatu yang tidak mungkin, menjadi mungkin!—
Tapi seseorang pernah bilang padaku, meski tidak mungkin, lakukanlah sekali saja walau kau tau hasilnya akan seperti apa, kau mungkin akan merasa lebih menyesal ketika tidak melakukannya sama sekali”
Ini bukan kali pertama Jane berbicara serius tentang hidupnya bersama Jae. Setelah pertemuannya 3 tahun silam, Jane merasa orang yang tepat untuk diajak bergurau selama ini hanyalah Jae. Entahlah, Jane merasa begitu nyaman saja ketika curahan hatinya di dengarkan oleh Jae.
“Apakah menurutmu aku tidak terlambat untuk memulainya?”
“Tentu saja tidak”
“Kalau begitu, aku harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, kan!”
“YA—“
“Bahkan jika aku gagal, aku harus melakukannya lagi”
“Waw, Kau terlihat begitu bersemangat!”
Lagi, Jane membuang napas gugup nya, sambil mengamati pemandangan gedung tinggi didepannya yang akan segera ia telusuri.
“Apa yang sedang kau lakukan sekarang?” Jae heran, ketika gadis ini mulai memejamkan kedua matanya sambil mengepalkan kedua tangan dengan dalih melakukan ritual doa.
“Mengatur napasku”
“Ahh—“
•
•
•
Hentakan demi hentakan, beberapa langkah kaki yang beralaskan pantopel hingga hak tinggi yang begitu percaya diri. Jane akhirnya berani memunculkan batang hidung nya ke dalam area gedung tersebut.
Matanya mulai menyoroti satu persatu orang orang berjas yang sibuk berlalu lalang melewati tubuhnya, hingga menemukan satu hal yang janggal secara tiba tiba.
Seseorang yang tidak asing dalam tangkapan mata Jane, pria berseragam pelayan kebersihan dengan topi hitam yang menutupi setengah bagian wajahnya melangkah menuju toilet. Jane yang dibuat penasaran lantas membuntutinya.
4 menit berlalu, Jane menunggu sang pria keluar. Yang keluar malah Pria lain dari dalam toilet wanita. Dia kemudian tersenyum manis kala mendapati Jane di depannya, sambil membenari kancing kemejanya yang terbuka di bagian dada, tak lupa juga jas hitam yang belum sempat ia kenakan di badannya.
“Kau melihatnya barusan?” Tanya pria gagah tersebut sambil mengenakan Jas hitamnnya.
Sungguh, Jane tidak paham dengan apa maksud dari kalimat yang laki laki itu lontarkan.
“Tidak—“ Jawab Jane ragu.
“Kau terlihat bohong, tapi aku suka caramu melindungi pekerjaanmu, apa kau anak baru? Aku belum pernah melihatmu disini sebelumnya” Katanya lagi.
“Aku—baru akan melakukan interview hari ini”
“Oh, kau baru akan melakukan interview, lalu kenapa masih disini?”
“Itu— aku— sedang menunggu temanku!”
“Tidak ada waktu untuk itu, kau tau persaingan sangat ketat disini. Lupakan temanmu dan segeralah pergi sebelum kau kehilangan kesempatanmu!”
“Itu—“
“Ikuti aku, aku juga akan kesana”
"Kau juga akan kesana?" Tanya Jane, mengulangi ucapan pria tersebut.
"Ya!"
Jane kemudian mengikuti langkahan sang pria dari belakang tubuhnya.

Komentar