Langsung ke konten utama

DEAR || Part. 2

     








Singkat saja, pertemuannya sederhana tetapi terasa sangat tidak nyata.


Berkat Jae, Jane tiba dengan waktu yang tidak sesuai perkiraan, sekitar 15 menit sebelum interview itu berlangsung. Sebelum turun dari dalam mobil, wajah Jane kelihatan begitu gugup dan kedua tangannya pun tiba tiba mendingin. 

Jae yang saat itu menyadarinya, lantas menyalurkan sebuah genggaman sebagai bentuk tanda memberikan gadis ini dukungan. Tapi Jane lagi lagi, langsung menepis tangan Jae tanpa ragu.

“Kau gugup?" Sahut Jae.

“Kelihatan begitu ya?”

“Iya—“ Jae menganggukan kepalanya, sambil memalingkan pandangannya dengan malu malu.

“Aku hanya— sedang memikirkan apakah penampilanku terlihat baik sekarang, menurutmu apa riasanku terlalu mencolok, bagaimana dengan jas ini, norak ya?”

“Tidak, Kau sangat cantik hari ini, Eum— maksudku kau—selalu cantik setiap saat— Jane..” Jawab gagap pria itu.

“Seharusnya aku tidak usah meminta pendapatmu!”

“Sungguh aku tidak bohong, kamu—memang —cantik ,Jane” 

“Kenapa tidak aku luluh, bahkan jika kau mengatakan aku seperti bidadari dari kayangan”

Menanggapi hal itu keduanya hanya saling lempar senyum geli, kemudian mengatur napas seolah meredakan kegugupan.

 Gadis ini jarang sekali menanggapi serius pujian dari Jae yang sering diserukan kepadanya. Jane sangat hapal, bahwa ucapan Jae barusan hanya untuk membuat Jane supaya lebih bersemangat saja. Dan nyatanya, itu cukup berhasil.

“Aku telah hidup cukup lama menjadi seorang gadis payah beberapa tahun ke belakang, setelah ku pikir pikir itu lebih melelahkan dari yang ku kukira. Tidak banyak yang aku inginkan dalam hidup ini. Hanya satu, sesuatu yang tidak mungkin, menjadi mungkin!—

Tapi seseorang pernah bilang padaku, meski tidak mungkin, lakukanlah sekali saja walau kau tau hasilnya akan seperti apa, kau mungkin akan merasa lebih menyesal ketika tidak melakukannya sama sekali”

Ini bukan kali pertama Jane berbicara serius tentang hidupnya bersama Jae. Setelah pertemuannya 3 tahun silam, Jane merasa orang yang tepat untuk diajak bergurau selama ini hanyalah Jae. Entahlah, Jane merasa begitu nyaman saja ketika curahan hatinya di dengarkan oleh Jae. 

“Apakah menurutmu aku tidak terlambat untuk memulainya?” 

“Tentu saja tidak”

“Kalau begitu, aku harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, kan!”

“YA—“

“Bahkan  jika aku gagal, aku harus melakukannya lagi” 

“Waw, Kau terlihat begitu bersemangat!”

Lagi, Jane membuang napas gugup nya, sambil mengamati pemandangan gedung tinggi didepannya yang akan segera ia telusuri.

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”  Jae heran, ketika gadis ini mulai memejamkan kedua matanya sambil mengepalkan kedua tangan dengan dalih melakukan ritual doa.

“Mengatur napasku”

“Ahh—“


Hentakan demi hentakan, beberapa langkah kaki yang beralaskan pantopel hingga hak tinggi yang begitu percaya diri. Jane akhirnya berani memunculkan batang hidung nya ke dalam area gedung tersebut. 

Matanya mulai menyoroti satu persatu orang orang berjas yang sibuk berlalu lalang melewati tubuhnya, hingga menemukan satu hal yang janggal secara tiba tiba. 

Seseorang yang tidak asing dalam tangkapan mata Jane, pria berseragam pelayan kebersihan dengan topi hitam yang menutupi setengah bagian wajahnya melangkah menuju toilet. Jane yang dibuat penasaran lantas membuntutinya.

4 menit berlalu, Jane menunggu sang pria keluar. Yang keluar malah Pria lain dari dalam toilet wanita. Dia kemudian tersenyum manis kala mendapati Jane di depannya, sambil membenari kancing kemejanya yang terbuka di bagian dada, tak lupa juga jas hitam yang belum sempat ia kenakan di badannya. 

“Kau melihatnya barusan?” Tanya pria gagah tersebut sambil mengenakan Jas hitamnnya.

Sungguh, Jane tidak paham dengan apa maksud dari kalimat yang laki laki itu lontarkan.

“Tidak—“ Jawab Jane ragu.

“Kau terlihat bohong, tapi aku suka caramu melindungi pekerjaanmu, apa kau anak baru? Aku belum pernah melihatmu disini sebelumnya” Katanya lagi.

“Aku—baru akan melakukan interview hari ini”

“Oh, kau baru akan melakukan interview, lalu kenapa masih disini?”

“Itu— aku— sedang menunggu temanku!”

“Tidak ada waktu untuk itu, kau tau persaingan sangat ketat disini. Lupakan temanmu dan segeralah pergi sebelum kau kehilangan kesempatanmu!”

“Itu—“ 

“Ikuti aku, aku juga akan kesana” 

"Kau juga akan kesana?" Tanya Jane, mengulangi ucapan pria tersebut.

"Ya!"

Jane kemudian mengikuti langkahan sang pria dari belakang tubuhnya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...