Langsung ke konten utama

DEAR || Part.3




“Gimana?”

“Aku lulus seleksi” Kata Jane, kepada seorang pria bersuara berat melalui telepon selulernya.

“Jangan bercanda!”

“Aku serius!!”

“Perlukah kita membuatkan pesta untukmu?” 

“Tidak usah, aku tidak membutuhkannya!”

“Baiklah, Oh ya, aku akan pergi ke lapas besok”

Tiba tiba wajah sumringah Jane berubah jemu.

“Tidak ada yang ingin kamu sampaikan untuk kakakmu?” Pria itu melanjutkan lagi kalimatnya yang terpotong.

“Tidak ada,  aku sedang di halte sekarang. Busnya sudah tiba. Aku tutup telpon nya ya!”

“O— itu..

“ Belum sempat pria di telpon itu menyerukan sesuatu, Jane lebih cepat menutup sambungannya begitu sang Bus datang.

Hujan turun dengan deras secara tiba tiba, diluar predikisi  tanpa mengajak runding dulu, untung saja Jane sudah sampai di dalam Bus. Gadis itu memilih duduk di bangku pojok paling belakang dekat jendela, sebuah kebiasaan yang ia lakukan ketika masih berseragam SMA. 

 Dengan earphone yang ia pasangkan pada kedua belah telinga yang sedang memutarkan sebuah lagu ballad kesukaannya, membuat Jane jadi teringat akan masa masa itu.

Dan kebetulan sekali momen nya saat sedang hujan seperti ini, biasanya Al Doun akan dengan tiba tiba duduk disampingnya kemudian pura pura tertidur.

Senyum dibibir Jane mendadak buyar kala sadar bahwa ia sedang mengkhayalkan momen waktu itu. Jane pastikan lagi dengan jelas, bahwa tidak ada siapapun disampingnya. 

 

20 menit berlalu, tanpa sadar mimpi telah membawa Jane menyelam bersamanya . Bus berhenti di tempat pemberhentian berikutnya, Pria berbalutkan hoodie abu abu dengan kupluk dikepalanya menyenggol bahu Jane, kemudian bergegas setelah mendapati Jane pada situasi yang kebingungan. 

 Masih berusaha mencerna dari ketidaksadarannya ,Jane memperhatikan punggung lelaki tidak asing itu yang kian menjauhi tubuhnya.

 "Aneh sekali, kenapa dalam mimpiku rasanya begitu nyata sekali!" Pikir Jane dalam hati, 

sembari melihati sang pria yang setengah bagian wajahnya tertutupi kupluk hoodie, melalui jendela Bus.

                      (Bonus)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...