“Jangan bercanda!”
“Aku serius!!”
“Perlukah kita membuatkan pesta untukmu?”
“Tidak usah, aku tidak membutuhkannya!”
“Baiklah, Oh ya, aku akan pergi ke lapas besok”
Tiba tiba wajah sumringah Jane berubah jemu.
“Tidak ada yang ingin kamu sampaikan untuk kakakmu?” Pria itu melanjutkan lagi kalimatnya yang terpotong.
“Tidak ada, aku sedang di halte sekarang. Busnya sudah tiba. Aku tutup telpon nya ya!”
“O— itu..
“ Belum sempat pria di telpon itu menyerukan sesuatu, Jane lebih cepat menutup sambungannya begitu sang Bus datang.
Hujan turun dengan deras secara tiba tiba, diluar predikisi tanpa mengajak runding dulu, untung saja Jane sudah sampai di dalam Bus. Gadis itu memilih duduk di bangku pojok paling belakang dekat jendela, sebuah kebiasaan yang ia lakukan ketika masih berseragam SMA.
Dengan earphone yang ia pasangkan pada kedua belah telinga yang sedang memutarkan sebuah lagu ballad kesukaannya, membuat Jane jadi teringat akan masa masa itu.
Dan kebetulan sekali momen nya saat sedang hujan seperti ini, biasanya Al Doun akan dengan tiba tiba duduk disampingnya kemudian pura pura tertidur.
Senyum dibibir Jane mendadak buyar kala sadar bahwa ia sedang mengkhayalkan momen waktu itu. Jane pastikan lagi dengan jelas, bahwa tidak ada siapapun disampingnya.
20 menit berlalu, tanpa sadar mimpi telah membawa Jane menyelam bersamanya . Bus berhenti di tempat pemberhentian berikutnya, Pria berbalutkan hoodie abu abu dengan kupluk dikepalanya menyenggol bahu Jane, kemudian bergegas setelah mendapati Jane pada situasi yang kebingungan.


Komentar