Barisan buku yang semula tertata rapi di rak nya, kini berserakan entah bagaimana posisinya. Sang pemilik rumah yang baru pulang, mengetahui itu tentu saja dibuat terkejut.
"Hey, apa yang sedang kau lakukan dengan rumahku?" Tegur Brian.
"Jangan khawatirkan ini, aku akan segera merapikannya" Jawab pria yang masih serius dengan kegiatannya memberantaki ruangan orang lain itu.
"Apa yang sedang kau cari?"
"Ah, aku yakin banget deh, kalau aku meninggalkannya disini, apa kau tidak melihatnya?" pria itu memastikan sekali lagi tempat yang ia yakini sebagai pusat peninggalan barangnya.
"Lihat apa, buku? Yang warna nya pink?"
"Hooh, kau melihatnya? dimana itu sekarang?"
"Sudah aku berikan kepada pemiliknya tadi siang"
Sontak saja, si pria segera menarik napas, menahan perasaan kesalnya.
"Kau tidak suka?" Brian terheran.
"Tidak, aku baru akan mengembalikan itu padanya"
"Kapan? Hari ini? Besok? Lusa? Atau wacana?"
Tidak memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan Brian lagi, kini pria itu memilih untuk mengalihkan badannya memberesi buku buku yang sudah ia berantaki.
"Aku akan membereskan semuanya" Jawab si pria.
"Hari ini aku bertemu dengan anak itu dan mengobrol sedikit, dia benar benar tidak ada bedanya, masih menggemaskan seperti dulu"
Lelaki tampan itu tak mengeluarkan suara, seolah membiarkan Brian tetap dengan gerutuannya.
"Dia terus saja menirukan gaya berbicaraku, bukankah menurutmu itu lucu?" Dengan percaya diri, Brian memamerkan hal tersebut kepada si pria yang sedang meletakan buku buku ke dalam rak.
"Sepertinya dia mulai menyukaiku, kau tau, dia bahkan sampai memuji penampilanku. Katanya aku terlihat semakin ganteng sekarang"
"Dia sungguh mengatakan itu padamu?"
"Eum! Kau tidak percaya" Sembari mengangguk, Brian mengiyakan.
"Aku hanya percaya, kalau kau sedang membual sekarang"
"Ow, Al Doun? Kau sedang cemburu? Lihatlah tandukmu seperti akan keluar"
Dengan kedua belah pipi yang mulai memerah, Doun menutupi wajah kesal campur malunya, mengalihkan diri melempar keras buku tebal ke arah kepala Brian.
Nyaris saja, untung Brian punya refleks yang bagus, jadi dia segera menepisnya demi melindungi diri dari serangan Doun.
"Kalau kangen, temui dia. Jangan bersembunyi seperti orang bodoh. Pria sejati tidak akan melakukan hal kekanakan seperti itu"
"Menemuinya atau tidak itu bukan urusanmu!"
"Kenapa? Kau masih dihantui oleh rasa bersalahmu?" Kata Brian.
"Kakaknya kalah di pengadilan karena aku"
"Berhenti merenungi kalau itu adalah salahmu, Jane bahkan tidak menyalahkanmu sama sekali"
"Tidak hanya sampai disitu, aku juga yang telah membuat ia harus kehilangan seluruh anggota keluarganya. Itu pasti sangat menyakitikan"
"Seharusnya kau tidak pergi saat semua yang ia miliki hilang, kau tau itu hanya akan memperburuk keadaan"
"Itu adalah bagian yang aku anggap salah darimu!"
Doun yang merasa kalah, kini menunduk bersama penyesalan yang ia miliki, kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.
"Temuilah dia, dengan wajah aslimu"
"Dia juga pasti akan senang dengan kehadiranmu, jadi jangan merasa minder lagi"
"Kau mendengarkan aku kan?"
Selesai bergelut dengan beberapa buku buku, Doun memilih bergegas pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun untuk Brian.
"Aku akan kembali kesana besok, kau mau ikut?" Tawar Brian, sebelum Doun akhirnya benar benar hilang dari ruangan ini.
"Tidak"
"Ramen disana adalah yang terbaik!"
"Jangan memaksaku!"
"Hey, apa kau tau ketika aku membicarakanmu, wajah Jane yang semula murung tiba tiba mengeluarkan cahaya"
"Aku tau kau menyukai gadis itu, jadi seharusnya kau senang bisa bertemu dengannya sendirian tanpa harus ada aku!"
"Semakin dewasa yang kita butuhkan bukan lagi tentang dia dan aku. Tapi tentang dia dan apa yang dia sukai. Jadi aku akan melakukan apapun yang membuat dia suka"
"Apapun?"
"Ya, mungkin"
"Bahkan jika dia harus menyuruhmu lompat dari gedung tinggi?"
"Kecuali itu!"
"Sayang sekali, kau masih pilih pilih dalam menentukan apa yang disukai gadis yang membuatmu jatuh cinta"
"Kenapa juga aku harus melakukan hal konyol semacam itu!"
"Kalau begitu aku anggap selesai cerita curahan hatimu hari ini"
"Hey"
Bruhg.. Doun menarik knop lalu menutup pintu keluarnya, menyisakan Brian yang sedang terpatung pasrah.
Komentar