Langsung ke konten utama

DEAR || PART. 10♡


Barisan buku yang semula tertata rapi di rak nya, kini berserakan entah bagaimana posisinya. Sang pemilik rumah yang baru pulang, mengetahui itu tentu saja dibuat terkejut.

"Hey, apa yang sedang kau lakukan dengan rumahku?" Tegur Brian.

"Jangan khawatirkan ini, aku akan segera merapikannya" Jawab pria yang masih serius dengan kegiatannya memberantaki ruangan orang lain itu.

"Apa yang sedang kau cari?"

"Ah, aku yakin banget deh, kalau aku meninggalkannya disini, apa kau tidak melihatnya?"  pria itu memastikan sekali lagi tempat yang ia yakini sebagai pusat peninggalan barangnya.

"Lihat apa, buku? Yang warna nya pink?"

"Hooh, kau melihatnya? dimana itu sekarang?"

"Sudah aku berikan kepada pemiliknya tadi siang"

Sontak saja, si pria segera menarik napas, menahan perasaan kesalnya.

"Kau tidak suka?" Brian terheran.

"Tidak, aku baru akan mengembalikan itu padanya"

"Kapan? Hari ini? Besok? Lusa? Atau wacana?"

Tidak memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan Brian lagi, kini pria itu memilih untuk mengalihkan badannya memberesi buku buku yang sudah ia berantaki.

"Aku akan membereskan semuanya" Jawab si pria.

"Hari ini aku bertemu dengan anak itu dan mengobrol sedikit, dia benar benar tidak ada bedanya, masih menggemaskan seperti dulu"

Lelaki tampan itu tak mengeluarkan suara, seolah membiarkan Brian tetap dengan gerutuannya.

"Dia terus saja menirukan gaya berbicaraku, bukankah menurutmu itu lucu?" Dengan percaya diri, Brian memamerkan hal tersebut kepada si pria yang sedang meletakan buku buku ke dalam rak.

"Sepertinya dia mulai menyukaiku, kau tau, dia bahkan sampai memuji penampilanku. Katanya aku terlihat semakin ganteng sekarang"

"Dia sungguh mengatakan itu padamu?"

"Eum! Kau tidak percaya" Sembari mengangguk, Brian mengiyakan.

"Aku hanya percaya, kalau kau sedang membual sekarang"

"Ow, Al Doun? Kau sedang cemburu? Lihatlah tandukmu seperti akan keluar"

Dengan kedua belah pipi yang mulai memerah, Doun menutupi wajah kesal campur malunya, mengalihkan diri melempar keras buku tebal ke arah kepala Brian.

Nyaris saja, untung Brian punya refleks yang bagus, jadi dia segera menepisnya demi melindungi diri dari serangan Doun.

"Kalau kangen, temui dia. Jangan bersembunyi seperti orang bodoh. Pria sejati tidak akan melakukan hal kekanakan seperti itu"

"Menemuinya atau tidak itu bukan urusanmu!"

"Kenapa? Kau masih dihantui oleh rasa bersalahmu?" Kata Brian.

"Kakaknya kalah di pengadilan karena aku"

"Berhenti merenungi kalau itu adalah salahmu, Jane bahkan tidak menyalahkanmu sama sekali"

"Tidak hanya sampai disitu, aku juga yang telah membuat ia harus kehilangan seluruh anggota keluarganya. Itu pasti sangat menyakitikan"

"Seharusnya kau tidak pergi saat semua yang ia miliki hilang, kau tau itu hanya akan memperburuk keadaan"

"Itu adalah bagian yang aku anggap salah darimu!"

Doun yang merasa kalah, kini menunduk bersama penyesalan yang ia miliki, kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.

"Temuilah dia, dengan wajah aslimu"

"Dia juga pasti akan senang dengan kehadiranmu, jadi jangan merasa minder lagi"

"Kau mendengarkan aku kan?"


Selesai bergelut dengan beberapa buku buku, Doun memilih bergegas pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun untuk Brian.


"Aku akan kembali kesana besok, kau mau ikut?" Tawar Brian, sebelum Doun akhirnya benar benar hilang dari ruangan ini.

"Tidak"

"Ramen disana adalah yang terbaik!"

"Jangan memaksaku!"

"Hey, apa kau tau ketika aku membicarakanmu, wajah Jane yang semula murung tiba tiba mengeluarkan cahaya"

"Aku tau kau menyukai gadis itu, jadi seharusnya kau senang bisa bertemu dengannya sendirian tanpa harus ada aku!"

"Semakin dewasa yang kita butuhkan bukan lagi tentang dia dan aku. Tapi tentang dia dan apa yang dia sukai. Jadi aku akan melakukan apapun yang membuat dia suka"

"Apapun?"

"Ya, mungkin"

"Bahkan jika dia harus menyuruhmu lompat dari gedung tinggi?"

"Kecuali itu!"

"Sayang sekali, kau masih pilih pilih dalam menentukan apa yang disukai gadis yang membuatmu jatuh cinta"

"Kenapa juga aku harus melakukan hal konyol semacam itu!"

"Kalau begitu aku anggap selesai cerita curahan hatimu hari ini"

"Hey"

Bruhg.. Doun menarik knop lalu menutup pintu keluarnya, menyisakan Brian yang sedang terpatung pasrah.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...