Langsung ke konten utama

DEAR || Part. 4

 


Cokelat panas sebagai teman penghangat untuk malam yang dingin ini.

Bersama dengan percikan gerimis sisa hujan sore tadi yang belum reda, bisa dilihat melaui jendela kamar yang terbuka, sambil menatapi dengan pikiran kosong layar komputer yang sedang memutarkan sebuah cuplikan video di depannya, yang baru saja ia dapati dari seseorang melalui sebuah kiriman pesan online. 

Doun kini mengalihkan fokusnya kepada sebuah ingatan akan kejadian sore hari tadi, saat bersama dengan seorang gadis cantik di Bus. 

“Aku rindu kamu” Ujar gadis itu, yang kedua bola matanya sedang terpejam, lebih tepatnya ia terlihat seperti orang yang sedang mengigau. 

Doun yang merasa tidak nyaman melihati kaca jendela Bus sebagai sandaran kepala sang gadis pun, segera ia pindahkan perlahan kearah bahunya. 

“Hei, Kau bengong?” Suara Brian terdengar menyeletuk tiba tiba, dengan jarak 1,5 meter dari punggung Doun. Membuat lamunan yang sedang Doun rangkai kabur seketika.

Lelaki yang mulai menghampiri Doun itu tampaknya baru selesai bertempur dengan alat alat dapur. Aroma rempah rempah yang khas membuat perut Doun langsung bersuara.

“Kau tidak dengar aku menyahut sedari tadi?” Lagi, pria bertubuh ideal itu menambahkan celetukannya.

“Oh ya? Aku tidak dengar!”Jawab singkat Doun.

“Kau tau— Aku juga pernah merasakan hal yang sama, menonton video senonoh seperti itu sering membuat aku kehilangan akan fokusku terhadap sekitar. Seperti dirimu saat ini” Kata Brian, begitu berhasil memergoki tontonan yang kini menjadi objek fokus Doun.

“Kau bicara apa sih?”

“Sebaiknya kau mulai hilangkan kebiasan buruk ini, karena selain membuat otakmu rusak juga dapat membuat citra lembaga kita jadi jelek. Kau harus menjaga sikapmu!”

“Jangan salah paham, aku hanya sedang mengerjakan tugasku!”

“Coba perhatikan lelaki dalam video ini” Kata Doun.

“Kenapa aku harus memperhatikan lelaki dalam video itu? Aku pria normal, aku suka wanita, terlebih pada wanita yang seksi” Elak Brian.

“Perhatikan lagi baik baik, apa kau tau siapa dia?”

“Memangnya siapa dia? Apa yang salah dengannya?!”

“Dia putra dari Stephanie Lee, istri ketiga pemilik XG Group” Jelas Doun.

“Wahh— Gila, Kau sungguh mencari tau kelemahan mereka?!”

“Kudengar dia digadang gadang akan segera menggantikan posisi CEO yang lama”

“Eyyy—Berhentilah, dan fokus saja pada pekerjaan utamamu!” 

“Jangan khawatir, aku bisa selasaikan semuanya!”

“Kita bekerja dibawah tangan pemerintah, jika kau menyeleweng sedikit saja, maka habislah”

“Aku hanya ingin menunjukkan kebenaran!”

“Melawan mereka adalah sesuatu yang mustahil, apalagi ketika kau mengharapkan sebuah kemenangan, jadi— jangan pergi sendirian lagi”

“Bukankah kau ada patroli malam ini, kenapa tidak pergi sekarang?” Pungkas Doun, seolah mengalihkan pembicaraan.

“Aku baru selelai membuat bubur untukmu, sengaja aku siapkan untuk meredakan flu mu, disana juga ada obat. Makanlah—”

“Aku akan makan seletah kau pergi!!”

“Sialan ini—“ 

Brian kemudian mengangkat kakinya untuk melangkah pergi, tapi sebelum itu, tampaknya masih ada kalimat tambahan yang ingin dia sampaikan.

“Oh ya, besok ada acara makan-makan, perayaan ulang tahunnya Pak Mario jam 11 siang di tempat—” 

“Aku tidak ikut” Kata Doun sambil memotong ucapan pria itu.

“Aiihh— kau selalu membosankan”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...