Langsung ke konten utama

DEAR || Part. 5

  




5 tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku SMA akhir. 



——Flashback on—-

Brian mendumel, menunggu tanggapan dari seorang gadis di depannya, 

karena terlanjur kesal, ia tendang saja pelan meja belajar yang sedang jadi sandaran kepala gadis bernama lengkap Aramoa Jane itu. 

“Hey—“

“Aku sedang bicara denganmu! Jangan pura pura tidak mendengarnya” Gerutu Brian.

“Bisakah kau tidak menggangguku dulu, aku benar benar lelah sekarang” Kata Jane,dengan nada lemas.

“Aku mengerti, tapi paling tidak dijawab dulu pertanyaanku. Kau marah padaku?” 

“Itu hobimu kan, seharusnya tidak usah tanyakan lagi!”

“Maaf— “ Dengan nada pelan, Brian berucap sembari memalingkan wajahnya.

Lagi, Jane diam tanpa memberikan jawaban, membuat Brian yang sedang menunggu, kembali dilanda kesal.

“Hei, dengar tidak sih?” bentak Brian

“Paling tidak untuk 10 menit saja! Berikan aku ketenangan” Jawab gadis itu yang juga membalas dengan nada bentakan.

“Aku tadi bicara lembut kau tidak dengar, sekarang aku bicara keras kau juga tidak suka, dasar gadis aneh—“

“Kapan kau pernah bicara lembut padaku?”

“Barusan!”

“Aku tidak mendengarnya”

“Itulah kenapa kau harus menggunakan kupingmu dengan baik, saat kau sedang bersama seseorang seharusnya kau fokus, jangan mengabaikannya!”

“Kau saja yang bicaranya tidak niat, kalau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, sampaikanlah dengan benar. Kau bisa berkata kasar dengan baik sementara meminta maaf dengan benar saja kau tidak tau”

“Wah— gadis menyebalkan ini sedang menjerjaiku  — “

“Lihatlah, inikah ciri seseorang yang sedang meminta maaf?”

“Hey— Aku sudah mengatakannya dan kau juga telah mendengarnya kan, Prihal kau memaafkanku atau tidak, itu masalahmu sendiri!”

“Kau sudah selesai bicaranya? Kenapa tidak segera pergi?” usir gadis itu.

“Benar juga, kenapa aku harus bertahan diruangan yang sempit ini apalagi dengan orang menyebalkan sepertimu? Aku sebaiknya menghirup udara segar diluar dan menikmati pemandangan yang bagus” Pungkas Brian, kemudian mengangkat tubuhnya dari bangku. 


Namun sebelum memutuskan untuk benar benar beranjak dari hadapan gadis itu, rasanya Brian masih enggan, ia mencoba untuk terus berada di sekitar Jane dengan merangkai kalimat kalimat kasar yang bahkan tidak peduli jika itu akan membuat gadis ini semakin marah padanya atau tidak.

“Sejujurnya ini benar benar sangat menyiksa diriku, kemarin aku memukul Doun karena dia emang pantes untuk dipukul, dan— kenapa kau begitu marah padaku, seharusnya kau berterima kasih padaku, berkat aku kau tidak di—?”

Jane hanya bereaksi melongos disitu,  mencerna dengan datar ucapan Brian.

“Hey aku tuh kasihan sekali padamu, bisa bisanya dia menipumu dengan wajah polos itu, yang membuatku kesal adalah, —ahh kenapa sulit untuk mengatakannya— Aku tidak pernah mencari perkara dengannya selama ini, kau juga tau itu, dan aku merasa apa yang aku lakukan sudah benar, lalu kenapa juga aku harus meminta maaf padanya?” Sambung Brian.

“Apa ini? Kau begitu memperdulikan aku?”

Brian semakin gelagapan dibuatnya.

“Jangan sok tau, —itu— aku —lakukan— karna wajahmu terlihat sangat menyedihkan, makanya aku sok peduli padamu —seperti sedang melihat pengemis dijalan—!”

“Sialan ini, seharusnya aku tidak usah meladeni berandalan sepertimu”

“Ey— aku tidak bermaksud bicara begitu, maaf” 

“Aku bilang AKU MINTA MAAF, kau dengarkan sekarang?” Gumamnya lagi, sambil memalingkan wajahnya karena malu.

“Aku dengar” Gadis itu kembali pada kondisinya, menempelkan sebelah pipinya dimeja.

“Kau tidak memasukan ke hati, kalimatku barusan kan?”

“Kalimat yang mana?”

“Yang terakhir”

“Tugasku adalah bersabar, selama kau masih berada disekitarku. Kadang aku selalu berfikir, apakah aku seburuk itu dimasa lalu sampai sampai aku harus bertemu dengan orang sepertimu”

“Kau menganggap kehadiranku sebagai musibah?”

“Aku tidak berkata begitu!”

“Tapi aku benar benar sangat tersinggung”

“Kau juga suka sekali berbicara ceplas ceplos padaku, kenapa aku juga tidak boleh melakukan itu?”

“Kau balas dendam?”

“Tidak!”

“Kau sedang balas dendam!!”

“Kau marah?” Tanya balik gadis itu.

“Tentu saja, minta maaflah”

“Tidak mau!”

“Hey— lakukan selagi aku masih bisa berbicara baik baik!”

“Haruskah?”

“Wah— kau menantangku?”

Brian mulai mengangkat tubuhnya bermaksud untuk memberi gadis ini ancaman. Tapi naas, saat tubuh Jane sudah berada di dada Brian akibat sebuah tarikan. Hal itu jadi boomerang untuk Brian. Jantungnya kembali bekerja lebih cepat dari biasanya. 


Brian Kang, sebut saja Brian. Anak anak disekolah memberikan julukan untuknya dengan sebutan berandal terbaik. Mengapa demikian, selain ia adalah anak yang paling suka mencari masalah juga salah satu penggemar garis keras absen dari kelas.

Berkepribadian dominan serta kasar saat berdialog. Brian sebenarnya diwaktu waktu tertentu bisa bersikap selembut hello kitty , apalagi ketika salah satu temannya mengalami musibah. Ia akan menjadi orang yang paling berempati diantara yang lain.

Meski terkadang suka sekali mengganggu Jane bahkan sampai membuat gadis itu harus dipermalukan satu sekolah karena ulahnya. Brian selalu dengan sigap, kepada siapa saja orang yang berani mengganggu Jane, entahlah apa motifnya. Yang jelas dimata Jane, Brian hanyalah sebuah masalah bagi hidupnya.

—Flashback off—



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...