Langsung ke konten utama

DEAR || Part. 6

 



••Kita berada dibawah langit yang sama, tapi kita tidak bisa bertemu••





Restaurant yang tadinya ramai oleh aksi para pelayan yang sedang berceloteh sambil malas malasan, kini berubah senyap saat segerombolan pria gagah berseragam kepolisian masuk ke dalam ruangan dengan wajah garang.

Tentu saja mereka yang saat itu tengah disana, langsung mengubah posisinya karena panik.

“Apakah kau tidak menyelundupkan sesuatu atau sejenisnya seperti sesuatu yang terlarang, begitu?” Tuduh Envil sambil membisik ke telinga Haruto.

“Hah? Tidak?” Pria muda itu menggeleng tak mengerti, sontak saja Karina yang sebal atas tuduhan Envil, dengan sigap membelanya.

“Kau sedang menuduhnya?”

“Bukan begitu, hanya saja dia terlihat sangat pendiam dan seakan membuat orang lain harus menaruh rasa curiga padanya”

“Orang lain siapa? Aku tidak merasa begitu, memang apa salahnya jika dia adalah orang yang sangat pendiam. Dia juga tidak pernah berkelakuan aneh aneh kok selama disini” Kata Karina.

“Lihat saja para polisi itu, mereka semua menatapi aneh Haruto!”

“Lihat dengan baik, tatapan itu Sebenarnya untukmu”

“Kau terus saja membelanya”

“Itu karna kau pemikir paling dangkal, dia hanya bekerja disini untuk mendapatkan uang sama seperti kita. Jika kau tidak suka jangan terlalu menunjukkannya. Tidak semua orang sabar menerima dengan lapang ucapan konyolmu itu”

“Wah, kau berani menantang seniormu disini?Lihatlah dia bahkan tidak bergumam sama sekali tapi kau begitu nyaring kepadaku, apa ini?”

“Hey, hey, sudah sudah, kalian ini” Pungkas sang pemilik restaurant menengahi.



“Kau—“ Tunjuk lelaki berseragam kepolisian itu kearah Jane. 

Para pelayan yang tadinya saling lempar raut muka sinis langsung terdiam dan mengubah rasa kecurigaan mereka terhadap Jane kali ini.

“Apa ini? Mereka memanggil Jane” Lagi, Envil mulai mengumpulkan argumentasinya mengenai sosok aneh itu.

Kalau dilihat Jane tampak begitu tenang dan tidak sepanik yang lain, mengingat orang yang barusan menunjuknya tersebut adalah sosok tidak asing. Jadi, seperti yang lelaki berseragam kepolisian itu perintahkan, Jane segera bergerak mendekatinya, meski dengan muka datar.

“Percaya diri sekali dia” Pekik Envil.

“Aku mau pesan makanan terbaik disini, bisa kau siapkan buku menunya!” Celetuk sang lelaki berseragam itu sambil tersenyum tipis.

“Hah? Apa ini?”

Mendengar ucapan itu Envil langsung menganga heran, diikuti oleh Karina dan juga Haruto.

“Kembalilah ke posisi kalian masing masing, mereka hanya mau pesan makanan, bukan mau menggeledah restauran ini” Ujar sang pemilik.

“Seharusnya kau membawa Jane mu kemari dan bernyanyi bersama kita. Itu pasti akan sangat menyenangkan?” Ujar salah seorang pria, kala Jane mulai menaruhkan beberapa mangkuk makanan ke arah meja mereka.

“Itu— akan mengganggu makanan kita gak sih— hahaha” Kata Brian sambil cengengesan,sementara matanya sekilas melirik Jane.

“Tapi aku penasaran, kenapa kau menamai gitarmu dengan nama itu?” Yang lain ikut menambahkan ujarannya.

“Entahlah, hanya nama itu lucu aja, jadi aku menggunakannya”

“Dia terus mengatakan kalau Jane itu sangat lembut dan menenangkan, dia bahkan tidur sambil memeluk gitarnya seperti orang bodoh!”

“Hey— mana mungkin!”

“Pria kalau sudah kelamaan jomblo memang suka begitu” tutur yang lain, dengan sebuah sambutan gelak tawa khas lelaki gahar mereka tertawa menggelegar.

“Hahaha—

Membuat gendang telinga Jane hampir saja mau pecah ditempat itu juga. 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...