Langsung ke konten utama

DEAR || Part. 7

 

Acara makan makan Brian dengan rekan kerjanya hari ini telah usai, ia juga sempat mengatakan akan pulang belakangan untuk sebuah urusan dengan seseorang.

Ya, siapa lagi kalau bukan dengan Jane.

Setelah sekian lama akhirnya Brian bisa meluapkan perasaan rindunya terhadap wajah menyebalkan yang sudah lama tidak ia temui itu. 

Masih ditempat yang sama

Jane, 

tampak menemani dengan terpaksa Brian yang masih belum menyelesaikan sisa makanannya.

“Wah— kau telah banyak berubah sekarang, sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat wajah ini, sedekat ini!” Kata Brian.

“Aku juga telah melihat banyak bantalan di tubuhmu, kau tampak seperti orang yang berbeda” timpal Jane.

“Berhati hatilah saat kau bicara denganku, aku seorang polisi sekarang”

“Apakah jika membuat seorang polisi kesal, aku akan masuk penjara?”

“Satu hal yang tidak berubah darimu, lihatlah saat kau berbicara denganku!! Apakah aku sedang deja vu sekarang?”

“Jika tidak ada hal yang penting untuk dibicarakan. Selesaikan makananmu dan cepatlah pergi!” Pangkas gadis itu.

"Dih, emang kau tidak mau kangen kangenan dulu apa?"

"Apakah itu perlu?"

“Baru juga 5 menit kita berbicara seperti ini, ayolah. Jangan terlalu sinis begitu, nanti pelanggan jadi pada takut mau makan disini lagi”


“Aku harus kembali bekerja, tidak enak dengan yang lain” Gumam Jane, sembari melirik sebentar rekan rekan kerjanya yang ketahuan tengah menguping dibalik meja.

Sadar akan hal itu, Brian lantas menghela napas beratnya kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas ransel untuk di serahkan kepada Jane.

Sebuah buku dengan sampul berwarna pink bergambar boneka beruang cokelat ditengahnya.

“Buku harianku—, aku telah lama mencarinya, tapi —bagaimana bisa ada padamu?” Jane terheran heran.

“Entahlah, aku menemukannya setelah Doun pergi dari apartement ku, dia pasti tidak sadar sudah meninggalkannya di meja kamarku”

—tadinya aku akan memberikan buku ini setelah pulang dari sini, tapi karena aku telah bertemu sang pemilik asli, jadi aku pikir aku langsung saja berikan padamu, kau tau kan anak itu kadang suka gak sopan. Mengingat buku jurnalku yang tidak kembali lagi dari tangannya, maka itu aku langsung memberikannya padamu!”

Nada bicara Brian terdengar gelagapan saat menjelaskan itu.

“Doun? Bukankah dia sedang diluar negeri?”

“Dia sudah lama kembali, sekitar 3 bulan. Kau tidak tau?”

Jane tak menjawab lagi, ia hanya menggelengkan pelan kepalanya sambil memikirkan hari hari kemarin saat menemukan sosok mirip seperti Doun disekitarnya.

“Dia emang kelihatan sok sibuk banget akhir akhir ini, bahkan untuk menyewa sebuah apartement saja rasanya dia seberat itu. Membuat aku kesal karena harus terus menginap di tempatku”

“Bagaimana kabarnya, apa dia baik baik saja?”

“Dia— sedang terserang flu sekarang. Kurasa karna kemarin malam ia kehujanan”

“Kehujanan?”

“Ya— jadi aku buatkan bubur untuknya”

“Dia memakannya?”

“Dia menghabiskannya seperti orang kelaparan”

“Lalu— bagaimana dengan luka — ditubuhnya, apakah sudah pulih?”

Brian kemudian menghela napas panjang.

“Dia tidak pernah suka ketika aku membicarakan itu, jadi aku tidak tahu. Tapi kelihatannya dia sudah baik baik saja!”

“Syukurlah!”

“Berhentilah terus merasa bersalah padanya, fokus saja pada dirimu sendiri. Lihatlah kau terlihat menyedihkan sekali, bekerja di restaurant kecil dengan lulusan terbaik di Yonsei. Apakah itu masuk akal?”

“Apa ini, bagaimana kau bisa setau itu?"

“Tentu saja, karena aku Brian”

“Kau memantau kehidupanku?”

“Hey?” 

Mata kecil Brian tiba tiba membulat, ia ingin mengelak tapi rasanya sudah ketangkap basah.

“Sedikit—“ katanya

“Itu karena aku terus merasa khawatir  padamu, aku takut orang orang itu kembali menerormu. Asal kau tau ya, kau pikir ikut ujian kepolisian semudah itu, aku sampai mau mati rasanya”

“Siapa yang menyuruhmu untuk melakukannya?”

“Kau‐---- wah aku sampai tidak bisa berkata kata"

“Tapi seragam itu kelihatan cocok denganmu, terlihat seperti polisi sungguhan"

"Kau sedang melawak?"


"Kapan lagi kau dapat pujian dariku, Seorang Brian yang aku kenal dulu sebagai berandalan kini telah bertransformasi menjadi kesatria pemberantas kriminalitas. Bukankah itu keren"

"Oh tuhan, kau membuat aku merinding, lihat bulu kudukku" Ujar Brian sambil bergidik memeluk tubuhnya sendiri.

"Sesekali aku juga perlu mengungkapkan kejujuranku untukmu kan, bukankah itu yang sedang kamu harapkan?"

"Tidak, sungguh aku tidak mengharapkannya sama sekali"

"Kalau begitu aku tarik kembali"

"Mana bisa begitu?"

"Tentu bisa, karena aku Jane makanya bisa" 

Sambil menirukan gaya bicara Brian, Jane seolah berhasil membuat laki laki itu semakin tak berkutik.

"Kau melakukannya dengan baik" Puji Brian.

"Total semuanya jadi 390ribu sudah termasuk dengan jasa menemanimu mengobrol!"

"Hey yang benar saja, hal seperti itu saja kau masukan ke dalam daftar pembayaran"

"Kau bisa membayarnya dikasir, kalau kau tidak tau aku akan mengantarmu kesana"

"Tidak usah, tidak perlu mengajari aku, aku sudah tahu"

"Baguslah, aku hanya sedikit khawatir kalau kau akan lupa cara melakukannya seperti dulu"

"Kau terus saja mengingatkan aku akan kenangan tempo dulu"

"Ya, lebih tepatnya tentang kenangan buruk diantara kita, itulah yang aku ingat"

"Kau bilang apa?-"

Jane kemudian tersenyum tipis sambil memperagakan diri layaknya ia memperlakukan seorang pelanggan. Lalu mempersilahkan Brian untuk segera bergegas kepada tempat pembayaran.

"Anak ini emang rada kurang ajar!"

"Terima kasih atas kunjungannya tuan Brian"

"Aku akan datang lagi dilain waktu"

"Iya"

"Aku juga sudah mencatat nomorku, kau bisa menghubungi aku jika sesuatu tiba tiba terjadi padamu"

"Jangan khawatirkan itu, aku bisa menjaga diriku dengan baik"

"Aku pergi ya"

"Iya, sudah sana!"



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betrayed | Shtblings

 Prolog Di usia senja, Ani kembali ke rumah tua itu, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyaksikan bagaimana warisan mengubah adiknya, Ikin, menjadi orang asing. Rumah itu berdiri dengan pongah, meski catnya mengelupas seperti kulit ari luka lama yang belum sembuh.  Di balik jendela-jendela yang berderit, bayangan masa lalu menari-nari, membawa serta kenangan pahit dan manis yang kini terasa seperti mimpi buruk.  Ani, dengan rambutnya yang sudah memutih bagai kapas di ladang yang ditinggalkan, menatap Ikin dengan tatapan kecewa.  Dulu, mereka adalah saudara yang saling melindungi di bawah langit desa yang sama. Sekarang, Ikin berdiri di hadapannya, matanya berkilat bagai koin emas di dasar sumur yang gelap, menggandeng istrinya yang licik, Titi, yang selalu berbisik tentang harta dan kekuasaan seperti ular yang merayu mangsanya.   Wasiat Duni adalah bom waktu yang meledak di tengah keluarga mereka, serpihannya menghambur ke segala arah, melukai hati yang...

Puisi || Rindu Di ujung Hening

  Ibu, di mana kau kini bersemayam? Di antara bintang yang bersinar di malam? Kehadiranmu, meski tak lagi di sisi, masih terasa hangat dalam sunyi ini. Aku merindukan sentuh lembut tanganmu, aroma kasih yang melekat dalam setiap peluk. Kini hanya ada hening yang menemani, namun cintamu abadi, takkan pernah pergi. Wajahmu terlukis di balik mataku terpejam, doamu masih terdengar dalam hati yang diam. Ibu, meski kita kini berbeda alam, rindu ini tak lekang, tak pernah padam. Setiap doa kupanjatkan untukmu, agar damai menyelimutimu selalu. Ibu, bintang paling terang di langit malam, kau hidup di sini, di dalam setiap hembusan napas yang tenang.

[DRABLLE] TEARS | JAE

Tittle - TEARS Cast -  JAE/ Sannia (AU) Genre -  Sad/Romance(?) Summary- “Kalau kamu mau nangis, menangislah. Kamu boleh nangis, kalau kamu mau teriak, lakukanlah! Tapi jangan menyakiti diri sendiri. Pukul saja bantal atau apa saja. Apapun yang kamu rasakan sekarang ini, aku mau kamu luangin waktu untuk mengidentifikasi emosi itu, apapun yang kamu rasakan, sesuatu yang kamu coba lakukan berharap itu menjadi lebih membuatmu baik” (Jae) Tetesan air bening itu kian tak mudah untuk di bendung, isi kepala yang terus terngiang, mengurungkan niatnya agar berhenti, suara halus itu juga berubah serak dan habis seiring mencetuskan kalimat “Maafkan aku” Tubuh tegap tinggi yang sudah menyanggah sebuah pelukan untuk menenangkan tampaknya sedikit melegakan. Puncak kepala yang sedang terlindungi kain hitam pada setengah rambutnya, Jae elus lembut. “Aku mengerti, tak apa, aku akan menguatkanmu disini!”Imbuh Jae “Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku sangat mencintainya”   Ia menun...