Jikalau waktu bisa diputar ulang, aku pasti akan memilih untuk kembali ke masa,
Dimana ketika kamu berusaha untuk membuat aku pergi dari pikiranmu oleh sebuah pilihan.
Seharusnya aku berpura pura tidak mendengarnya saja hari itu. Sungguh, aku benar benar tidak tau kalau ternyata akan menjadi sekesepian dan sekehilangan seperti sekarang.
Kamu tau? Hari menjadi lebih lama dan aku semakin tidak memiliki ketertarikan dengan apapun lagi.
Setelah semuanya berakhir, aku hanya memiliki kamu saat itu. Aku juga berharap hanya kamulah yang bertahan berada disisiku. Tapi kenapa?
kamu lebih memilih pergi dan meninggalkan semua kenangan berharga kita. Kenapa? Setelah aku aku menyadarinya semua terasa sesingkat itu.
Bisakah? Bisakah, aku berharap tentang sebuah ketidakmungkinan.
Berharap kamu kembali kepadaku.
Apa aku terdengar sangat egois?
Bisakah kita pergi bersama sama saja?.
Kira kira begitulah isi dari halaman terakhir yang pernah Jane tulis pada buku hariannya.
Membuat bibir tipis itu tanpa sadar mengembang sesaat , bukan karena merasa aneh dengan tulisannya, melainkan karena sebuah kabar yang mengatakan kalau orang yang ia rindukan kini telah kembali.
Entahlah dari hati yang paling dalam. Ia sebenarnya sedang berada di ambang kebingungan, antara senang, takut dan kecewa. Semua bercampur menjadi satu.
"Siapa lagi itu?" Karina menyeletuk sambil menyilangkan kedua tangannya di dada seolah mengintrogasi.
Mengetahui itu, tentu Jane segera memulihkan seluruh kesadarannya.
"Dia--- dia temanku saat SMA" Kata Jane
"Oh, teman SMA?"
"Iya"
"Sepertinya dia memberikan sebuah hadiah untukmu!" Tebak Karina.
"Tidak, ini barang milikku yang telah lama tertinggal,jadi dia mengembalikannya"
"Begitukah? Kulihat kau lebih bebas saat berbicara dengan polisi itu dari pada dengan si pengacara yang sering mengintilimu. Kau pasti dulu pernah sedekat itu ya?"
"Emang kelihatan begitu ya?"
"Sangat keliatan , Aku juga yakin, kamu pasti sedang dalam masa kesulitan menentukan mana yang cocok untukmu sekarang kan?"
"Hah? Aku, tidak paham dengan maksudmu?"
"Aku beritahu kamu ya, pria yang benar benar tulus adalah, dia yang bersedia meluangkan segala waktunya untukmu meski sesibuk apapun itu. Kau tau kenapa begitu?"
"Kenapa?"
"Karena mereka tidak ingin kehilangan satu momen pun yang ada pada dirimu, maka berbanggalah saat kamu sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Aku harap kau tidak salah pilih, kau masih punya banyak waktu untuk mempertimbangkannya"
"Aku pikir, aku harus mendengarkan saran bagusmu ini"
"Tentu, ini adalah wejangan dari seorang senior ahli percintaan"
"Wah, Pantas kau bisa setau itu"
"Jujur saja aku sebenarnya iri padamu, karna kau dikelilingi oleh pria pria keren. Mereka juga kelihatannya tulus padamu. Jadi maklum jika kau bingung "Gumam Karina.
"Bukankah pria pria yang mendekatimu juga keren? Kemarin kau bilang kau sedang dekat dengan seorang tentara?"
"Aku sudah memutuskan hubungan dengannya"
"Kenapa?"
"Aku merasa, ternyata kita tidak memiliki kecocokan satu sama lain"
"Gitu ya?"
"Seleraku emang agak lain, terkadang aku menyukai apa yang tidak disukai oleh kebanyakan orang, entahlah kenapa begitu, aku juga tidak tau"
"Seperti Envil maksudmu?" Sembari membisik Jane, ke telinga Karina.
"Hey, gak gitu juga dong!"
"Menurutku dia karismatik kok"
"Dih, aku mau muntah rasanya" Cetus Karina.
"BUKANKAH SEKARANG ADALAH JAM KERJA? Kenapa kalian malah bergosip disana?"
Suara lantang Bi Nana tiba tiba berkumandang dari arah meja kasir, berkat aduan Envil wanita itu mengomeli para pegawai wanitanya.
Sontak saja semua orang termasuk Envil, segera membubarkan diri pergi ke tempatnya masing masing, terkecuali Jane.
"Apa yang kau lakukan disana? Cepat bersihkan mejanya" Gerutu wanita tua itu.
"Bi, bisakah kau memberiku cuti besok?"
"Ada apa? apa telah terjadi sesuatu?"
"Tidak, aku hanya tiba tiba merindukan mereka. Jadi aku akan pergi ke pemakaman ibuku sebentar lalu setelah itu aku akan menemui kakakku "
"Pergilah,kau juga sudah jarang kesana karena tidak sempat kan.. Titip salam juga untuk kakakmu!"
"Iya bi--" Jawab Jane, dengan senyuman tipis di akhir kalimatnya.
Tanpa segera bergegas, gadis ini memilih untuk tetap berdiri mematung tak merubah posisinya sedikitpun, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Apalagi?" Sahut si bibi.
"Apa kau sama sekali tidak penasaran dengan hasil interview ku kemarin?" Sekali lagi Jane katakan.
"Oh? Interviewmu? Bagaimana?" Sang bibi tampak mencoba terlihat antusias memberi reaksi untuk keponakannya itu.
"Aku lulus!" Jawab gadis itu sambil melebarkan senyuman di bibirnya.
"Benarkah?"
"Kau tidak sedang becanda?"
"Sungguh, aku akan mulai bekerja lusa"
"Waw , selamat ya Jane akhirnya!!" Ucap Karina senang, setelah mendengar kabar itu.
"Kak Jane selamat, senang mendengarnya!" Haruto juga ikut menambahkan cuitannya.
"Makasih Karina, Ruto"
"Akhirnya kau bisa mematahkan julukan si paling interview juga, sudah seharusnya aku mengucapkan selamat untukmu, selamat makhluk aneh" Ujar Envil.
"Kau pasti senang tidak akan ada aku lagi disini"
"Tentu saja, tapi ada sedikit kehilangannya karena kau salah satu rekan yang punya loyalitas tinggi disini"
"Dan aku lebih merasa kehilangan oleh sosok rekan menyebalkan sepertimu, Envil"
"Menemukan orang sepertiku sangat mudah, apalagi di tempat sebesar XG"
"Itu akan sangat menyenangkan" Ledek Jane.
"Kau bisa meledekku juga rupanya?"
"Hahaha..."
Sontak, riuh tawa renyah dari para penghuni restaurant ini menyebar. Ini mungkin akan jadi momen paling langka yang pernah mereka dapatkan selama disini.
"Apakah kita perlu membuatkan pesta kecil untukmu?" Kata Bi Nana.
"Hey Sejak kapan kau menjadi seroyal ini?" Envil menyinggung.
"Ayolah, sesekali kita juga perlu hiburan kan" Potong Karina.
"Itu hanya akan menghambur hamburkan waktu dan uangmu, Lebih baik kau segera menyibukan diri untuk cepat mendapatkan pengganti Jane"
"Tidak usah khawatirkan itu, Ruto sudah merekomendasikan seorang temannya untukku, jadi dia sudah mulai bisa bekerja besok"
"Ruto? ku kira hidupmu hanya tentang dirimu saja, ternyata kau bisa punya teman juga rupanya" Lagi, Envil menyinggung Haruto kali ini.
"Kau tidak bicarakan itu denganku?" Decak Karina, pada Haruto.
"Maafkan aku"
"Apa ini?kalian tidak sedang menjalin hubungan tanpa sepengetahuan kita kan?" Envil terheran.
"Itu bukan urusanmu" Elak Karina.
"Oke Jadi bagaimana? kapan kita akan melakukannya" lagi, Bi Nana bertanya.
"Kau sangat bersemangat ya nyonya?" Kalu ini Envil meledek atasannya tersebut.
"Terkadang aku setuju dengan pendapat Karina, Kita semua pada akhirnya akan membutuhkan waktu untuk menghibur diri dari penatnya hari hari yang begitu melelahkan bukan?"
"Kau membuat aku merinding mendengarnya!"
"Aku anggap kau ikut!"
"Ya, akan lebih baik jika kita tidak mengeluarkan uang pribadi"
"Bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan" Seru Jane.
Rupanya hal itu langsung disetujui oleh seseorang yang baru saja datang lalu memilih bergabung dengan mereka.
"Itu tidak buruk, ayo pergi kesana" Celetuk seorang lelaki berkacamata.
"Jae??" Jane tampak begitu terkejut.
"Maaf kalau tadi aku menguping sedikit, aku mendengar kalian akan membuat sebuah pesta untuk perayaan seseorang, apakah tidak masalah jika aku ikut bergabung?"
"Siapa bilang tidak boleh, kau telah banyak melakukan hal baik untuk keponakanku, tentu kau boleh ikut" Sambutan hangat dari Bi Nana untuk Jae.
"Apakah kau tidak punya ide ke tempat lain selain taman hiburan? Usia kita rata rata sudah bukan dibawah umur lagi, apalagi kita juga membawa satu orang tua, akan merepotkan nanti." Gumam Envil.
"Hey, kau meragukan aku?"
"Apa kau tau taman hiburan itu seperti apa?"
"Aku sudah pernah beberapa kali melakukannya saat usiaku masih remaja, jadi itu bukan masalah"
"Ada banyak permainan yang mungkin sudah tidak bisa kamu lakukan lagi disana, pada usiamu yang sekarang"
"Aku hanya akan menonton, melihat kau muntah untuk beberapa permainan"
"Bibi bibi ini emang agak lain..."
Menyaksikan perdebatan antara wanita perkasa verus Pria setengah lebah ternyata jauh lebih seru ketimbang menonton acara MMA di tengah malam.
"Apakah sebaiknya kita batalkan saja rencana liburan ini?" Urung Jane.
"Kita akan tetap pergi, meski satu orang ada yang tidak setuju, ini adalah acaraku, hanya aku yang berhak untuk membatalkannya atau tidak" Jelas Bi Nana.
"Karena ini akan menjadi acara yang sangat penting, Bagaimana kalau aku yang menjadi penanggung jawab acara ini secara keseluruhan?" Kata Jae.
Tentu saja, pernyataan Jae barusan akan langsung di sambut antusias oleh mereka. Terlebih Envil.
"Nah ini dia, kalau begitu kan aku tidak usah berfikir dua kali untuk ikut, jadi gimana? Apa sebaiknya tidak kita percepat saja"
"Hey kau gila, tidak tidak, ayo kita bertanggung jawab untuk diri kita masing masing" tolak Jane.
"Kenapa kau menolak orang yang sedang melakukan hal baik kepada kita" Sesal Envil.
"Apa kau tidak merasa malu? Dia melakukan ini bukan hanya sekali atau dua kali. Kau sudah terlalu sering melakukannya. Jadi berhentilah"
"Tidak apa apa, aku senang melakukannya. Apalagi karena ini keinginanmu untuk pergi kesana. Apapun akan aku lakukan demi kesenanganmu"
"OMG, Dia manis sekali" Puji Karina, sembari melirik Haruto seolah kode.
"Kau seorang pengacara, tapi kenapa lebih terlihat seperti seorang pengangguran?"
"Aku sebenarnya sedang bekerja sekarang dan sangat sibuk di dalam kepalaku"
Jane kemudian membalas itu dengan sekilas senyuman geli. Begitu halnya juga dengan Jae, kini mereka saling melemparkan sebuah senyuman satu sama lain
Membuat pemandangan yang tadinya terasa panas kini berubah dingin karena dua insan tersebut.
Komentar