Tak ada kesan yang berharga, terlebih saat kamu tidak ada. Jadi saat ini, aku anggap itu sangat berharga, meski kita sudah tak senada.
"Tampaknya kau mulai nyaman dengan tempat ini, kau bahkan selalu menolak kunjungan dariku. Tapi kali ini tiba tiba kau menerimanya, jadi aku merasa sangat terhormat" Ujar Jane, kepada sosok narapidana didepannya yang kini tubuhnya tengah terhalangi oleh jendela besi.
"Bang Taby mengatakan padaku, katanya kesehatanmu sedang menurun. Jadi aku kemari untuk melihatnya. Aku juga membuatkan banyak makanan. makanlah, kau harus memliki energi untuk bisa tetap bertahan, paling tidak selama beberapa hari kedepan" Lagi, Jane menawarinya beberapa kotak makanan yang telah ia serahkan kepada asisten sipir.
Namun pria itu tak berdehem sedikitpun. Hanya murung sambil memandangi kosong objek di depannya.
"Jadi begini ya, potret aku selama beberapa hari kebelakang di mata teman temanku, memang terlihat menyedihkan. Pantas kalau mereka sering mentertawaiku"
"Jika kau tidak ingin memakannya juga tidak apa, buang saja. Tapi aku akan kembali lagi sampai aku benar benar melihatmu memakannya"
Belum sempat Jane berdiri untuk bergegas melangkah pergi, si pria dengan sigap mengambil kotak nasi, kemudian memakannya di depan Jane.
Hal itu langsung disambut senang oleh Jane, terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Aku melihat ayah siang ini, saat mau mengunjungi makam ibu, sepertinya dia juga habis berkunjung" Lagi, gadis muda ini menyahut.
Yang tadinya bersemangat untuk melahap beberapa sayuran kedalam mulutnya. Tiba tiba gaya makan sang pria berubah memelan.
"Entahlah tiba tiba aku langsung kepikiran ibu, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi pemakamannya hari ini"
"Aku masih ingat betul, dulu saat kita masih kecil, kau adalah orang yang paling aku cemburui karena selalu saja dapat pujian dari ibuku. Kau juga terus membuatnya bangga karena ketulusan hatimu, saat menjaga dan melindungiku sebagai saudara sambungmu. Kalian berkata bahwa kita akan selalu menjadi keluarga yang utuh dalam keadaan apapun. Jadi aku hanya bisa menangisi itu sendirian setiap malam ketika mengingatnya. Kenapa? Aku bahkan tidak bisa membencimu? Setelah apa yang telah kau lakukan kepada ibuku?"
"Aku berharap waktu itu ada sesuatu yang salah. Karena itu aku terus memikirkannya kembali. Tapi kau hanya bungkam, saat aku berniat untuk berusaha menyelamatkanmu, kau pikir aku akan dengan mudahnya memaafkan? Membiarkanmu menebus dosa orang lain sementara mereka sedang bersenang senang sakarang?"
"Kembalilah Abang Ji, Entah bagaimanapun caranya" Bujuk Jane.
Setelah si pria rasa makan nya sudah selesai. Tanpa mengucap sepatah kalimat pun ia pergi, meninggalkan Jane yang masih menunggunya membuka suara.
"Tak apa Jane, berikan dia waktu untuk berinstrospeksi diri, jadi aku akan kesini lagi nanti" Gumam gadis ini.
Sebuah tarikan napas panjang yang keluar lewat hidung, begitu raganya sudah berada di area luar lapas. Lagi, Jane kembali terlihat suram hari ini.
Cara jalannya pun tampak terpontang-panting tak beraturan, seperti orang habis minum bir.
Untung saat itu ada seorang pria bertopi yang tiba tiba datang sebagai pahlawan, sehingga tubuh Jane berhasil diselamatkan dari serobotan kendaraan roda dua yang sedang melintas dengan kecepatan tinggi.
Lagi lagi, si pria terburu buru pergi bahkan sebelum Jane mandapati wajahnya untuk mengucapkan terima kasih.
Lihatlah cara berjalannya, masih dapat Jane amati dari jauh sejeli mungkin. Itu benar benar mirip dengan seseorang.
Komentar